Solidarity : Journal of Social, Humanitarian, and Interfaith Research
https://jurnal.gerakanedukasi.com/index.php/solidaity
<p data-start="0" data-end="379"><strong data-start="0" data-end="72">Solidarity: Journal of Social, Humanitarian, and Interfaith Research</strong> is an academic journal dedicated to advancing scholarly discussion on social issues, humanitarian concerns, and interfaith relations. It provides a platform for researchers, educators, and practitioners to critically examine contemporary social challenges through rigorous and interdisciplinary approaches.</p> <p data-start="381" data-end="759">The journal emphasizes research that promotes justice, human dignity, and social transformation. With a strong focus on interfaith studies, <em data-start="521" data-end="533">Solidarity</em> highlights dialogue and collaboration among diverse religious traditions as essential contributions to peacebuilding, social cohesion, and the resolution of global issues such as inequality, conflict, and humanitarian crises. By integrating theory and practice, <em data-start="797" data-end="809">Solidarity</em> seeks to produce knowledge that is both academically robust and socially relevant. The journal aspires to foster ethical scholarship and collective action that contribute to a more inclusive, compassionate, and harmonious global society.</p>en-USSolidarity : Journal of Social, Humanitarian, and Interfaith ResearchGUNUNG DAN RUANG HIJAU: PRAKTIK SOSIAL KEAGAMAAN PENDAKI DALAM PELESTARIAN EKOLOGI DI GUNUNG BUTHAK
https://jurnal.gerakanedukasi.com/index.php/solidaity/article/view/217
<p>Penelitian ini dilatarabelakangi oleh aktivitas pendakian dalam menjaga kelestarian gunung sebagai ruang hijau yang menopang keseimbangan ekologis di Gunung Buthak. Tujuan utama dari penelitian ini untuk mengetahui praktik sosial keagamaan pendaki dalam pelestarian ekologi di Gunung Buthak, serta bentuk habitusi pendaki dalam pelestarian ekologi di Gunung Buthak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi pastispan dan wawancara semi terstruktur dengan pendaki, pengelola maupun masyarakat sekitar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik sosial keagamaan seperti membaca doa sebelum mendaki, menjaga kebersihan lingkungan, serta menunjukkan rasa hormat terhadap alam merupakan bagian dari tindakan ekologis yang berbasis spiritualitas. Praktik ini tidak hanya bersifat individual, tetapi juga membentuk kebiasaan kolektif (habitus) dalam komunitas pendaki. Habitus ini lahir dari kombinasi antara nilai agama, pengalaman mendaki, dan kesadaran sosial ekologis yang terbentuk secara terusmenerus. Penelitian ini merekomendasikan penguatan nilai keagamaan dalam aktivitas pendakian sebagai bagian dari strategi pelestarian lingkungan berbasis budaya dan spiritualitas yang berkelanjutan.</p>Irjani Setyo Nahrowi
Copyright (c) 2026 Solidarity : Journal of Social, Humanitarian, and Interfaith Research
2026-01-272026-01-2710111210.56404/solidarity.v1i01.217REPRESENTASI KESENJANGAN SOSIAL TERHADAP PENDIDIKAN DAN PEKERJAAN : STUDI KASUS PADA KOMUNITAS WARIA DI TULUNGAGUNG
https://jurnal.gerakanedukasi.com/index.php/solidaity/article/view/218
<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk kesenjangan sosial dalam akses pendidikan dan kesempatan kerja pada komunitas waria di Tulungagung, serta peran komunitas APRIKOT (Apresiasi Waria dan Priawan Kota Tulungagung) dalam mendukung pemenuhan hak-hak sosial dan ekonomi anggotanya. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus melalui wawancara mendalam pada tiga informan utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 10% waria di Tulungagung berpendidikan sarjana dan terbilang sejahtera namun sebanyak 90% hanya lulusan SD–SMA. Hal ini dikarenakan adanya diskriminasi, tekanan psikologis, serta kurangnya dukungan keluarga. Temuan ini memperlihatkan bahwa diskriminasi berbasis identitas gender menjadi hambatan utama dalam perkembangan modal manusia (human capital) kelompok waria, sebagaimana dijelaskan oleh Gary Becker bahwa investasi pendidikan semestinya berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas, namun tidak berlaku optimal bagi kelompok waria karena stigma sosial yang melekat. Selain itu, penelitian ini menegaskan bahwa komunitas APRIKOT memiliki peran strategis dalam memberikan dukungan sosial, pelatihan keterampilan, akses informasi pekerjaan, serta wadah pemberdayaan untuk meningkatkan kualitas hidup anggotanya. Secara keseluruhan, studi ini menekankan perlunya dukungan struktural yang lebih inklusif agar waria memperoleh akses pendidikan dan pekerjaan yang setara, serta dapat keluar dari lingkaran kesenjangan sosial-ekonomi.</p>Fika Yuni Atika
Copyright (c) 2026 Solidarity : Journal of Social, Humanitarian, and Interfaith Research
2026-01-272026-01-27101132110.56404/solidarity.v1i01.218MAKNA RELIGIUS DALAM ZIARAH MAKAM SUNAN KUNING: PENGALAMAN SPIRITUAL DAN PEMBENTUKAN IDENTITAS SOSIAL MASYARAKAT MACANBANG
https://jurnal.gerakanedukasi.com/index.php/solidaity/article/view/220
<p>Penelitian ini berjudul “Makna Religius dalam Ziarah Makam Sunan Kuning: Pengalaman Spiritual dan Pembentukan Identitas Sosial Masyarakat Macanbang”. Fokus utama penelitian adalah pada pengalaman spiritual peziarah serta pembentukan identitas sosial masyarakat Macanbang, Tulungagung. Ziarah makam sebagai praktik religius tidak hanya dipahami sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai ruang sakral yang menjadi perantara hubungan manusia dengan Yang Ilahi, sekaligus memperkuat solidaritas sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap peziarah, dan masyarakat Desa Macanbang. Kerangka teoritis penelitian ini merujuk pada konsep sakralitas dan tempat suci Mircea Eliade. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik ziarah ke makam Sunan Kuning dimaknai tidak hanya sebagai ritual keagamaan, melainkan juga sebagai pengalaman spiritual yang menghadirkan ketenangan batin, refleksi diri, serta hubungan vertikal dengan Tuhan. Motif ziarah terbagi menjadi dua, yakni motif duniawi dan motif ukhrawi. Pengalaman spiritual para peziarah merefleksikan adanya hierofani, yakni manifestasi sakral dalam ruang makam yang dipahami sebagai axis mundi. Selain itu, keberadaan makam Sunan Kuning membentuk identitas sosial masyarakat Macanbang melalui persepsi kolektif, pelestarian tradisi, simbolisme religius, serta kebanggaan lok al. Namun, identitas ini tidak homogen, melainkan bersifat dinamis karena adanya dialektika antara yang sakral dan profan. Dengan demikian identitas sosial masyarakat Macanbang masih dalam negosiasi, karena terdapat dinamika sosial yang menumbuhkan dua pendapat berbeda dalam satu masyarakat.</p>Irma Hadhe Firananda
Copyright (c) 2026 Solidarity : Journal of Social, Humanitarian, and Interfaith Research
2026-01-282026-01-28101223410.56404/solidarity.v1i01.220KESADARAN RELIGIUS KONSUMEN MUSLIM PADA PRODUK MAKANAN BERSERTIFIKASI HALAL DI PINKA TULUNGAGUNG
https://jurnal.gerakanedukasi.com/index.php/solidaity/article/view/226
<p>Mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, sehingga isu kehalalan produk makanan menjadi aspek penting dalam kehidupan masyarakat, khususnya dalam konteks konsumsi di ruang publik seperti pusat kuliner. Namun, dalam praktiknya, kesadaran terhadap pentingnya konsumsi produk bersertifikasi halal masih beragam. Hal ini terlihat di Wisata Kuliner Pinka Tulungagung, yang menjadi salah satu destinasi kuliner populer namun belum seluruh produknya memiliki label halal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan bentuk kesadaran religius konsumen Muslim terhadap produk makanan bersertifikasi halal di lokasi tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap konsumen dan pengelola. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesadaran religius konsumen terbentuk melalui pemahaman terhadap ajaran agama, pengalaman pribadi, serta faktor sosial dan budaya. Meski sebagian konsumen menyadari pentingnya label halal, sebagian lainnya masih mengandalkan kepercayaan terhadap penjual tanpa memprioritaskan sertifikasi. Faktor keterbatasan informasi, rendahnya edukasi halal, dan minimnya peran lembaga terkait menjadi kendala utama. Penelitian ini menunjukkan bahwa kesadaran religius dalam konsumsi halal merupakan hasil interaksi antara nilai keagamaan, persepsi sosial, dan kondisi lingkungan konsumsi.</p>SELFIA IRDA DESTIANI
Copyright (c) 2026 Solidarity : Journal of Social, Humanitarian, and Interfaith Research
2026-01-282026-01-28101354810.56404/solidarity.v1i01.226PERAN TRADISI TAHLIL AKBAR DALAM MEMPERERAT KOHESI SOSIAL DI DESA JATILENGGER
https://jurnal.gerakanedukasi.com/index.php/solidaity/article/view/227
<p>Tahlilan merupakan tradisi yang sangat dinamis dan menarik, baik dari sudut pandang budaya maupun keagamaan. Tradisi tahlil tak hanya menjadi perekat sosial, tapi juga untuk mempersatukan elemen masyarakat yang terpisah dalam berbagai sisi ideologi dan keyakinan. Tradisi ini adalah sesuatu yang telah dilakukan sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat. Namun tradisi yang dimaksud dalam penelitian ini tradisi yang masih berjalan dalam 2 tahun belakangan ini. Penelitian ini menggunakan Penelitian yang diterapkan dalam studi yaitu penelitian dengan pendekatan studi kasus.Metode ini dipilih karena penelitian berfokus pada sebuah fenomena sosial spesifik yang terjadi di masyarakat desa, yaitu konflik sosial yang timbul dalam pelaksanaan Tradisi Tahlil Akbar di Desa Jatilengger. Konflik ini berawal dari ketimpangan dalam pola interaksi sosial antarwarga yang berbeda dalam latar belakang ekonominya, di mana warga dari kalangan ekonomi atas cenderung selektif dalam berkomunikasi dan bergaul, sementara warga dari kelompok ekonomi bawah merasa kurang percaya diri dan enggan berbaur secara setara dalam lingkungan tersebut.Penelitian ini menggunakan perspektif dari Teori Interaksionisme Simbolik yang diperkenalkan oleh George Herbert Mead, setiap tindakan sosial yang dilakukan individu dimaknai melalui simbol-simbol dan interaksi yang berkembang di lingkungan sosialnya. Dalam konteks ini, Tahlil Akbar menjadi simbol yang merepresentasikan nilai persatuan, kebersamaan, dan solidaritas di tengah kehidupan masyarakat desa Jatilengger, dan untuk mengkaji dalam mempererat ikatan sosial masyarakat menggunakan teori kohesi sosial yang dikemukakan oleh Emile Durkheim, Kohesi sosial menjadi perekat yang membuat individu dalam masyarakat tidak terpisah-pisah, melainkan terhubung secara emosional dan sosial, sehingga mereka dapat bekerjasama dan hidup berdampingan secara damai. Kohesi sosial adalah modal sosial penting untuk membangun masyarakat yang kuat dan tahan banting, karena melalui kohesi sosial, norma, nilai, dan aturan bersama dapat diikuti dan dijalankan secara konsisten oleh anggota masyarakat desa jatilengger.</p>Tia Rohmatul Azizah
Copyright (c) 2026 Solidarity : Journal of Social, Humanitarian, and Interfaith Research
2026-01-282026-01-28101495710.56404/solidarity.v1i01.227