Solidarity : Journal of Social, Humanitarian, and Interfaith Research https://jurnal.gerakanedukasi.com/index.php/solidaity <p data-start="0" data-end="379"><strong data-start="0" data-end="72">Solidarity: Journal of Social, Humanitarian, and Interfaith Research</strong> is an academic journal dedicated to advancing scholarly discussion on social issues, humanitarian concerns, and interfaith relations. It provides a platform for researchers, educators, and practitioners to critically examine contemporary social challenges through rigorous and interdisciplinary approaches.</p> <p data-start="381" data-end="759">The journal emphasizes research that promotes justice, human dignity, and social transformation. With a strong focus on interfaith studies, <em data-start="521" data-end="533">Solidarity</em> highlights dialogue and collaboration among diverse religious traditions as essential contributions to peacebuilding, social cohesion, and the resolution of global issues such as inequality, conflict, and humanitarian crises. By integrating theory and practice, <em data-start="797" data-end="809">Solidarity</em> seeks to produce knowledge that is both academically robust and socially relevant. The journal aspires to foster ethical scholarship and collective action that contribute to a more inclusive, compassionate, and harmonious global society.</p> Gerasi Insan Nusantara en-US Solidarity : Journal of Social, Humanitarian, and Interfaith Research 3124-1387 MODERNITAS DI PESANTREN SALAF: STUDI KASUS PONDOK PESANTREN LIRBOYO CABANG SANTREN, KOTA BLITAR https://jurnal.gerakanedukasi.com/index.php/solidaity/article/view/364 <p><span style="font-weight: 400;">Seiring dengan perkembangan zaman, lembaga pendidikan Islam seperti pondok pesantren salaf dihadapkan pada tantangan modernitas. Gelombang modernisasi yang membawa disrupsi teknologi, integrasi kurikulum umum, dan perubahan orientasi pasar seringkali membuat pesantren salaf terpinggirkan karena dicap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Ditambah tekanan struktural dan desakan regulasi pemerintah untuk melakukan standarisasi menjadi modern, pesantren salaf dituntut untuk merefleksikan posisinya supaya tidak tergerus oleh arus modernitas. Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis studi kasus intrinsik. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, serta dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan pengujian keabsahan data melalui triangulasi sumber, metode, dan teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Lirboyo Cabang Santren merespons modernitas melalui tiga mekansime yang saling terhubung sebagaimana dalam teori Giddens. </span><em><span style="font-weight: 400;">Pertama</span></em><span style="font-weight: 400;">, pemisahan ruang dan waktu (</span><em><span style="font-weight: 400;">time-space separation</span></em><span style="font-weight: 400;">) dimanfaatkan secara terbatas melalui </span><em><span style="font-weight: 400;">live streaming </span></em><span style="font-weight: 400;">Youtube dan TikTok untuk keperluan dakwah, sementara proses pembelajaran inti tetap mensyaratkan kehadiran fisik. </span><em><span style="font-weight: 400;">Kedua</span></em><span style="font-weight: 400;">, </span><em><span style="font-weight: 400;">disembedding</span></em><span style="font-weight: 400;"> terjadi secara terkendali melalui penggunaan sistem pakar oleh pengurus untuk administrasi dan dakwah, sedangkan santri tetap dibatasi dari akses teknologi demi menjaga orientasi belajar yang personal. </span><em><span style="font-weight: 400;">Ketiga</span></em><span style="font-weight: 400;">, refleksivitas institusional menjadi mekanisme utama penyaringan: tekanan dari modernitas ditanggapi melalui pertimbangan rasional berdasarkan “</span><em><span style="font-weight: 400;">mempertahankan hal-hal lama yang masih baik dan mengambil hal-hal baru yang memang dibutuhkan.</span></em><span style="font-weight: 400;">” Melalui kapasitas pengawasan yang terpusat pada Kyai dan pengurus, pesantren mempertahankan pola nilai serta memberikan keamanan ontologis bagi santri. Hasilnya, Pondok Pesantren Lirboyo Cababng Santren bukan sekedar mempertahankan tradisi secara defensif, melainkan menunjukkan strategi adaptasi yang reflektif dan terencana dalam menghadapi arus modernitas.</span></p> Dinda Muhamad Hashiif Copyright (c) 2026 Solidarity : Journal of Social, Humanitarian, and Interfaith Research 2026-10-13 2026-10-13 1 02 58 70 10.56404/solidarity.v1i02.364 Konstruksi Sosial Dewasa Madya Dalam Praktik Keagamaan di Musholla Baitul Muttaqin Desa Kunir https://jurnal.gerakanedukasi.com/index.php/solidaity/article/view/436 <p>Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana konstruksi sosial kesalehan dewasa madya dibentuk dalam praktik keagamaan yasinan di Musholla Baitul Mutttaqin Desa Kunir. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh terbatasnya kajian yang secara khusus membahas proses pembentukan kesalehan sosial pada kelompok dewasa madya melalui praktik keagamaan kolektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Informan penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling yang terdiri atas 5 informan. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, serta dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini menggunakan teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Lukcman yang meliputi proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi.</p> <p> Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesalehan sosial dewasa madya terbentuk melalui tiga proses konstruksi sosial. Pada tahap eksternalisasi, anggota terlibat aktif dalam kegiatan yasinan yang didorong oleh motivasi religius dan sosial. Tahap objektivasi, yasinan berkembang menjadi tradisi sosial-keagamaan yang dipertahankan melalui interaksi sosial, solidaritas, serta dukungan lingkungan musholla. Tahap internalisasi, nilainilai yang berkembang dalam kelompok diserap menjadi bagian dari kesadaran individu dan diwujudkan dalam bentuk peningkatan ibadah, kepedulian sosial, sikap gotong royong, dan menjaga kerukunan antar sesama. Dengan demikian, yasinan tidak hanya berfungsi seabagai sarana ibadah, tapi juga menjadi ruang sosial yang membentuk kesalehan sosial dewasa madya di Desa Kunir. </p> desiftrs26 Sari Copyright (c) 2026 Solidarity : Journal of Social, Humanitarian, and Interfaith Research 2026-10-13 2026-10-13 1 02 71 84 10.56404/solidarity.v1i02.436 DEVELOPMENT OF INTERACTIVE LEARNING MEDIA USING ARTICULATE STORYLINE 3 TO FOSTER STUDENTS' DIGITAL LITERACY SKILLS https://jurnal.gerakanedukasi.com/index.php/solidaity/article/view/383 <p>This research is motivated by the use of digital technology in learning that has not been running optimally. The learning process is still dominated by the use of printed books, worksheets, and lecture methods so that students are not used to using digital devices as a means of learning. This condition causes students' digital literacy skills to not develop optimally. Therefore, interactive learning media is needed that can support the learning process while helping to grow students' digital literacy skills. This study aims to describe the development process and feasibility of interactive learning media using Articulate Storyline 3 and to determine the contribution of learning media in fostering digital literacy skills of grade IV students of Elementary School 02 Samar Pagerwojo. The type of research used is Research and Development (R&amp;D) with the ADDIE development model consisting of Analyze, Design, Development, Implementation, and Evaluation stages. The subjects of this study were 11 students in grade IV of Elementary School 02 Samar Pagerwojo. Data collection techniques are carried out through observation, interviews, questionnaires, and tests. The research data was analyzed using qualitative and quantitative analysis techniques. The results showed that interactive learning media using Articulate Storyline 3 obtained an average validation result of 96.9% with the category "Very Valid". In addition, the learning media obtained a practicality result of 94% and a digital literacy test result of 86% with the category of "Very Good". Based on these results, learning media is declared feasible, practical, and effective to be used in Natural and Social Sciences learning and can help grow students' digital literacy skills.</p> Widian Agung Copyright (c) 2026 Solidarity : Journal of Social, Humanitarian, and Interfaith Research 2026-10-13 2026-10-13 1 02 103 110 10.56404/solidarity.v1i02.383 TEOLOGI LINGKUNGAN DALAM PRAKTIK PERTNIAN ORGANIK DI JATAYU TULUNGAGUNG https://jurnal.gerakanedukasi.com/index.php/solidaity/article/view/396 <p>Penelitian ini mengkaji integrasi teologi lingkungan dalam praktik pertanian organik di JATAYU (Jamaah Tatanan Wahyu) Tulungagung. Di tengah krisis ekologis global dan dominasi pertanian konvensional berbasis bahan kimia, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap prinsip-prinsip teologi lingkungan yang menjadi landasan serta bagaimana prinsip tersebut diwujudkan dalam praktik sehari-hari jamaah. Menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan koordinator cabang, ranting, dan anggota JATAYU, observasi partisipatif selama kegiatan pertanian, serta analisis dokumen organisasi. Hasil penelitian menemukan empat prinsip teologi lingkungan utama yang diinternalisasi jamaah, yaitu: tanggung jawab sebagai khalifah fil ardh, keselarasan (harmoni) manusia-alam sebagai manifestasiilahi, pandangan ekosentris terhadap seluruh makhluk hidup, serta pemaknaan pertanian organik sebagai bentuk ibadah dan amanah ilahi.</p> <p>Prinsip-prinsip ini diwujudkan dalam praktik kolektif berupa pengelolaan lahan bersama, sistem pertanian sirkular (pemanfaatan limbah ternak dan air kolam lele), kegiatan “Minggu Bumi” sebagai ruang praksis spiritual-ekologis, serta pengelolaan lumpang (lumbung pangan) sebagai mekanisme ketahanan pangan komunitas. Melalui kerangka ekoteologi Seyyed Hossein Nasr dan teori praktik sosial Pierre Bourdieu, penelitian ini mengungkap bahwa habitus teologi lingkungan, modal sosial-kultural-simbolik, serta arena jamaah berhasil mereproduksi praktik pertanian organik sebagai bentuk integrasi spiritualitas dan pelestarian lingkungan di tingkat akar rumput. Penelitian ini menyimpulkan bahwa JATAYU berhasil mentransformasikan teologi lingkungan dari wacana normatif menjadi praksis sosial yang konkret, sekaligus memberikan kontribusi bagi studi sosiologi agama dan ekoteologi di Indonesia dengan menunjukkan model komunitas keagamaan sebagai agen perubahan ekologis yang efektif.</p> kafa nia Copyright (c) 2026 Solidarity : Journal of Social, Humanitarian, and Interfaith Research 2026-10-13 2026-10-13 1 02 85 102 10.56404/solidarity.v1i02.396