REPRESENTASI KESENJANGAN SOSIAL TERHADAP PENDIDIKAN DAN PEKERJAAN : STUDI KASUS PADA KOMUNITAS WARIA DI TULUNGAGUNG
DOI:
https://doi.org/10.56404/solidarity.v1i01.218Keywords:
waria, pendidikan, pekerjaan, human capital, APRIKOT TulungagungAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk kesenjangan sosial dalam akses pendidikan dan kesempatan kerja pada komunitas waria di Tulungagung, serta peran komunitas APRIKOT (Apresiasi Waria dan Priawan Kota Tulungagung) dalam mendukung pemenuhan hak-hak sosial dan ekonomi anggotanya. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus melalui wawancara mendalam pada tiga informan utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 10% waria di Tulungagung berpendidikan sarjana dan terbilang sejahtera namun sebanyak 90% hanya lulusan SD–SMA. Hal ini dikarenakan adanya diskriminasi, tekanan psikologis, serta kurangnya dukungan keluarga. Temuan ini memperlihatkan bahwa diskriminasi berbasis identitas gender menjadi hambatan utama dalam perkembangan modal manusia (human capital) kelompok waria, sebagaimana dijelaskan oleh Gary Becker bahwa investasi pendidikan semestinya berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas, namun tidak berlaku optimal bagi kelompok waria karena stigma sosial yang melekat. Selain itu, penelitian ini menegaskan bahwa komunitas APRIKOT memiliki peran strategis dalam memberikan dukungan sosial, pelatihan keterampilan, akses informasi pekerjaan, serta wadah pemberdayaan untuk meningkatkan kualitas hidup anggotanya. Secara keseluruhan, studi ini menekankan perlunya dukungan struktural yang lebih inklusif agar waria memperoleh akses pendidikan dan pekerjaan yang setara, serta dapat keluar dari lingkaran kesenjangan sosial-ekonomi.
References
Alfaris, M. R. (2018). Eksistensi Diri Waria Dalam Kehidupan Sosial Di Tengah Masyarakat Kota (Fenomenologi Tentang Eksistensi Diri Waria Urbanisasi di Kota Malang). Widya Yuridika, 1(1), 234795.
Amila, A., & Abidin, M. Z. (2024). Transgender Survival Strategy Amidst Discrimination to Meet Economic Needs in Jayapura City. IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies, 5(1), 51–68.
Ashari, N. (2021). Konsep Diri Waria (Fenomena Waria di Akademi Pariwisata Makassar). JIVA: Journal of Behaviour and Mental Health, 2(2).
Azzahra, A. S., Sitinjak, N., Kusuma, F. A., Sherlyana, N. P., & Susilo, S. (2025). Stigma Dan Realita: Diskriminasi Waria Di Lingkungan Masyarakat. Jurnal Pendidikan Sosial Dan Konseling, 2(4), 1355–1364.
Dalimoenthe, I. (2021). Sosiologi Gender. Bumi Aksara.
Lestari, D. A., Apip, A., & Hikmawan, M. D. (2018). Subjek Marginal: Waria dalam Memperjuangkan Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya di Kota Serang Banten (Fenomena Keberadaan Waria Kota Serang).
Nurusshalikhah, D. I. (2016). Diskriminasi Hak Kerja terhadap Kaum Transgender (Studi Kasus: Tiga Transgender di Jakarta). Universitas Negeri Jakarta.
Pamungkas, & B. (2021). No Title. IDNtimes.
Rouse, W. B. (2010). Human Capital Economics. In The Economics of Human Systems Integration: Valuation of Investments in People’s Training and Education, Safety and Health, and Work Productivity (pp. 57–68).
Tanjung, F. (2020). Adaptasi Waria: Studi Kasus Komunitas Waria di Kabupaten Pangkep.
Vahsyeli, S., Yusnaini, Y., & Lidya, E. (2020). Tekanan Sosial Kaum Waria di Kota Palembang. Jurnal Media Sosiologi, 23(2), 107–117.
Weiss, Y. (2015). Gary Becker on Human Capital. Journal of Demographic Economics, 81(1), 27–31.












