GUNUNG DAN RUANG HIJAU: PRAKTIK SOSIAL KEAGAMAAN PENDAKI DALAM PELESTARIAN EKOLOGI DI GUNUNG BUTHAK
DOI:
https://doi.org/10.56404/solidarity.v1i01.217Keywords:
praktik keagamaan, pelestarian ekologi, pendaki gunung, Gunung Buthak, habitus ekologisAbstract
Penelitian ini dilatarabelakangi oleh aktivitas pendakian dalam menjaga kelestarian gunung sebagai ruang hijau yang menopang keseimbangan ekologis di Gunung Buthak. Tujuan utama dari penelitian ini untuk mengetahui praktik sosial keagamaan pendaki dalam pelestarian ekologi di Gunung Buthak, serta bentuk habitusi pendaki dalam pelestarian ekologi di Gunung Buthak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi pastispan dan wawancara semi terstruktur dengan pendaki, pengelola maupun masyarakat sekitar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik sosial keagamaan seperti membaca doa sebelum mendaki, menjaga kebersihan lingkungan, serta menunjukkan rasa hormat terhadap alam merupakan bagian dari tindakan ekologis yang berbasis spiritualitas. Praktik ini tidak hanya bersifat individual, tetapi juga membentuk kebiasaan kolektif (habitus) dalam komunitas pendaki. Habitus ini lahir dari kombinasi antara nilai agama, pengalaman mendaki, dan kesadaran sosial ekologis yang terbentuk secara terusmenerus. Penelitian ini merekomendasikan penguatan nilai keagamaan dalam aktivitas pendakian sebagai bagian dari strategi pelestarian lingkungan berbasis budaya dan spiritualitas yang berkelanjutan.
References
Djuned, M. (2023). Relasi Manusia dan Lingkungan Hidup dalam Islam. SINTHOP: Media Kajian Pendidikan, Agama, Sosial Dan Budaya, 2(2), 124–134. https://doi.org/10.22373/sinthop.v2i2.4080
Fatmawati, I. (2020). Pierre Bourdieu dan Konsep Dasar Kekerasan Simbolik. 12(1), 41–60.
Fredianto, D., & Eko, F. (2020). Pawai Miniatur Truk sebagai Arena Hiburan Baru Masyarakat Rural: Sebuah Praktik Sosial. 4, 10–21.
Illahi, A. M. R., & Anwar, S. (2023). Perilaku Pendaki Gunung Singgalang terhadap Lingkungan Sekitar Jalur Pendakian di Nagari Padang Laweh Kecamatan Sungai Pua. Jurnal Pendidikan Tambusai, 7, 1–8. Retrieved from https://jptam.org/index.php/jptam/article/view/8594
Imawati, S., Kusmawati, A., & Sholehudin. (2023). Fiqih Mendaki Gunung Berdasarkan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Jurnal Kemuhammadiyahan Dan Integrasi Ilmu FIQIH, 149. Retrieved from https://jurnal.umj.ac.id/index.php/JKII/index
Krisdinanto, N. (2021). Pierre Bourdieu, Sang Juru Damai. KANAL: Jurnal Ilmu Komunikasi, 2(2), 189. https://doi.org/DOI: 10.21070/kanal.v2i2.300
Lestari, W. (2021). Konstruksi Nilai Sosial Pendaki Gunung melalui Mitos Pendakian (Studi Kasus: Gunung Prau). FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Masruri, U. N. (2020). Pelestarian Lingkungan dalam Perspektif Sunnah. Jurnal At-Taqaddum, 6(2), 411–428.
P, G., E, M., & R, A. (2022). Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Lokal di Kampung Adat Cireundeu. Jurnal Inovasi Penelitian, 3(1), 4657–4666.
Permadi, B. A., Yunus, M., Hariadi, I., & Putra, M. (2025). Tingkat Aktivitas Fisik Pendaki Gunung Panderman Buthak Kota Batu. 4(1).
Qothrunnada, K. (2025). Pendakian Gunung Butak: Daya Tarik, Harga, hingga Waktu Tempuhnya. Retrieved from https://www.detik.com/
Rahmawati, A. (2020). Praktik Sosial Menurut Bourdieu Merupakan Hasil Dinamika Dialektis antara Internalisasi Eksternal dan Internalisasi Internal. Paradigma, 3, 10. Retrieved from https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/paradigma/article/view/37408
Sinaga, D. D., & Janes, S. (2022). Pencegahan Pencemaran Lingkungan. SAINTEKES: Jurnal Sains, Teknologi Dan Kesehatan, 1(1), 6–13. https://doi.org/10.55681/saintekes.v1i1.2












